Media Informasi, kajian, Bio-Ekologi dan Interaksi LH & Pembangunan

Kamis, 10 November 2016

GLOBALISASI, LINGKUNGAN HIDUP DAN IDE 'MAPALUS EKOLOGI'

(Sebuah Catatan Singkat) 

Oleh: Meidy Yafeth Tinangon 

Globalisasi adalah proses yang berkelanjutan dan mempercepat yang merestrukturisasi dan meningkatkan hubungan antara ekonomi, institusi, dan masyarakat sipil. Proses yang dinamis dan multidimensional ini mengintegrasikan perdagangan, produksi, dan keuangan serta memperkuat norma-norma global dan kekuatan sosial global. Sebuah konstelasi kekuatan mendorong globalisasi, termasuk teknologi baru dan lebih cepat (seperti komputer) serta peningkatan dominasi kapitalisme dan ideologi Barat. Dalam istilah sederhana, hal ini mengarah ke 'dunia sebagai tempat tunggal', di mana perubahan di negeri tertentu yang jauh mempengaruhi orang-orang di seluruh dunia lebih cepat, dan dengan frekuensi dan intensitas yang lebih besar (Scholte 1997, dalam Dauvergne, 2005).
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan kedidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (UU No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup). Dengan demikian lingkungan hidup tidak hanya terbatas pada persoalan alam atau habitat tempat manusia hidup saja, tetapi juga mencakup manusia dan interaksinya, yang disebut dengan lingkungan sosial.

Salah satu definisi kebudayaan dalam Antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan defenisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari: “Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu (Siregar, 2002).

Dengan pemahaman ini, maka dapat dikatakan bahwa kebudayaan Minahasa adalah seluruh cara kehidupan masyarakat Minahasa, meliputi cara-cara berlaku / perilaku, kepercayaan dan sikap-sikap serta hasil karya yang khas dari masyarakat Minahasa.

·         Mapalus
Mapalus adalah bentuk solidaritas masyarakat agraris Minahasa yang berkembang sebagai pola perilaku tradisi yang diwariskan secara turun temumn yang terus berkembang dari generasi ke generasi secara terus menerus (Lumintang, 2015). Mapalus adalah budaya yang merupakan penjabaran dari falsafah Sitou Timou Tomou Tou ialah suatu aktivitas kehidupan masyarakat dengan sifat gotong royong (kerja-sama) dan telah melekat pada setiap insan putra-putri masyarakat suku Minahasa. Kata dasar Mapalus ialah palus yang antara lain artinya menuangkan dan mengerahkan, sehingga Mapalus mengandung makna suatu sikap dan tindakan yang didasarkan pada kesadaran akan keharusan untuk beraktivitas dengan menghimpun (mempersatukan) daya (kekuatan dan kepandaian) setiap personil masyarakat untuk memperoleh suatu hasil yang optimal sesuai tujuan yang telah disepakati sebelumnya (Sumual 1995). Di awal perkembangannya, budaya mapalus hanya terbatas pada kegiatan kerja di bidang pertanian misalnya untuk kerjasama pembukaan lahan ataupun penggarapan sawah dan ladang. Mapalus merupakan kultur lokal yang memiliki organisasi sehingga dikenal sebutan kelompok mapalus. Juga terdapat aturan dalam kegiatan kerja kelompok tersebut. Menurut Lumintang (2015), aturan dalam mapalus kerja pertanian antara lain, yaitu wajib hadir dalam aktivitas kerja pertanian yang telah dijadwalkan, bekerja sampai waktu yang ditentukan. Jika ada yang tidak memenuhi kewajibannya sebagai anggota mapalus  kerja akan diberikan sanksi sesuai dengan kebijakan dari ketua mapalus yang disepakati anggotanya. Contoh sanksi yang diberikan adalah jika anggota tidak bisa hadir tanpa alasan yang jelas biasanya orang tersebut di kucilkan dari masyarakat, tidak diikutsertakan pada kegiatan-kegiatan mapalus di kelompok lainnya karena dianggap tidak mampu membayarnya.  Sedangkan jika ketidakhadiran karena alasan sakit, orang tersebut diharuskan membayar sejumlah uang yang telah ditentukan bersama atau mencari orang yang bisa menggantikan pekeriaannva (biasanva digantikan oleh anggota keluarga).  Hasil penelitian terungkap bahwa, mapalus pada awal mulanya hanya di bidang pertanian saja (sesuai aktivitas hidup masyarakat yang adalah petani), dimana saat itu belum ada buruh tani sehingga pekerjaan lahan pertanian harus digarap oleh petani pemilik. Dalam aktivitas mapalus tani ini, seorang pemimpin harus matu’ur (yang meneladani di depan) serta mempertunjukkan kemampuan dan rasa tanggung-jawab. Hal ini di tunjukkan dengan jam kerja yang sangat ketat, di mulai dari jam 06.00 pagi dan selesai pada jam 17.00 sore. Berangkat bersama-sama dan pulang bersama-sama pula. 

Lebih lanjut menurut Lumintang (2015) dalam penelitiannya di Kecamatan Langowan Utara Kabupaten Minahasa, menjelaskan bahwa seiring dengan berkembangnya waktu, mapalus mulai mengalami perubahan. Mapalus bukan hanya pada aktivitas penanian tetapi juga berkembang pada aktivitas seperti kematian dengan rangkaian upacara perkabungan dan pada acara sukacita seperti perkawinan.  Mapalus kedukaan yang berkembang di Minahasa dikemas dalam bentuk kerukunan baik kerukunan duka desa, kemkunan desa antar jaga, dan kerukunan atas sejumlah keluarga besar (rumpun keluarga).

Terakhir di Sulawesi Utara berkembang juga konsep “Mapalus Kamtibmas” yang digagas Kepolisian Daerah Sulawesi Utara. Menurut Tandaju (2014), Polda Sulut mencanangkan program “Mapalus Kamtibmas” yang mendorong partisipasi masyarakat secara bersama untuk melaksanakan kegiatan keamanan dan ketertiban. Filosofi tersebut diangkat oleh Kapolda Carlo Tewu dari budaya mapalus orang minahasa. Pendekatan budaya dipandang lebih efektif untuk melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan keamanan dan ketertiban secara swakarsa dengan difasilitasi oleh kepolisian.


·         Dampak Globalisasi Terhadap Lingkungan Hidup

Arus utama globalisasi dewasa ini ada pada globalisasi ekonomi dengan semakin kuatnya perdagangan bebas yang diinstitusionalisasi dengan kesepakatan-kesepakatan perdagangan multinasional-regoional (AFTA, MEA, MEE dll). Meningkatnya ritme perdagangan,  menuntut kapasitas produksi yang tinggi.  Negara tanpa produk adalah negara yang tak bisa menjual dan berarti hanya akan menjadi konsumen.

Produksi barang pada akhirnya menuntut adanya eksploitasi lingkungan /  sumber daya alam (Natural resourches). Ekploitasi lingkungan yang tak terkendali (over eksploitasi) pada akhirnya memberikan dampak pada degradasi kualitas lingkungan hidup. Disamping itu, eksploitasi dan produksi menggunakan teknologi (industri) yang melibatkan proses pembakaran industri dengan hasil samping berupa limbah industri yang mengandung polutan (zat pencemar) penyebab polusi lingkungan. Hasil samping tak bisa terhindar karena, sesuai hukum termodinamika, energi tidak bisa diciptakan tapi bisa diubah.  Proses perubahan energi manapun tidak ada yang efisiensinya 100%. Pun proses metabolisme alami dalam tubuh manusia, tetap menghasilkan sisa metabolisme yang dibuang sebagai kotoran atau keringat. Dengan demikian, ketika polutan dalam kondisi melebihi daya dukung lingkungan, terjadilah apa yang kita kenal sebagai pencemaran lingkungan.

Produksi dan over eksploitasi melahirkan perusakan dan pencemaran lingkungan. Dari persoalan-persoalan ekologis lokal, pada akhirnya menghasilkan apa yang kita kenal sebagai efek rumah kaca atau Greenhouse effect, yang kemudian menjelma menjadi global warming  atau pemanasan global.

·         Mapalus Ekologi: Menangkal Dampak Lingkungan Globalisasi dengan Local Culture

Persoalan lingkungan hidup (degradasi dan polusi), harus ditangani dengan pendekatan multidimensional. Model pemecahan masalah lingkungan dapat dilakukan dengan sinergi dari aspek ekologi, teknologi, ekonomi, sosial, politik dan budaya untuk menghasilkan sebuah output berupa keberlanjutan (Sustainabilitas) sistem kehidupan. Dalam pendekatan kebudayaan, mapalus merupakan sebuah potensi atau modal yang dapat menggerakan ekonomi, teknologi untuk keberlanjutan alam (juga keberlanjutan kultural).

Menurut Rembet (2004), Mapalus adalah suatu aktivitas kehidupan masyarakat dengan sifat gorong royong (kerja-sama) yang sudah melekat pada setiap insan putra-putri masyarakat suku Minahasa.   Mapalus merupakan cultural asset yang sangat penting bagi masyarakat Minahasa, sehingga dapat dikatakan sebagai Social Capital dalam hidup bermasyarakat sesuai falsafah hidup anak temurun Toar-Lumimuut. Mapalus dalam horizon waktu dapat diklasifikasi dalam beberapa kondisi sesuai perkembangan/kemajuan aktivitas hidup yang berhubungan dengan bergesernya nilai-nilai dasar sifat mapalus yang lebih mengarah pada hubungan social yang baik serta kelestariaan alam yang lebih sustainable.

Kebudayaan mapalus sebagai modal sosial masyarakat Minahasa, dapat dirancang dan diaplikasikan sebagai model pemberdayaan masyarakat.

 Referensi:
1.    Dauvergne, P., 2005. Globalization and the environment. Global Political Economy, pp.448-478.
2.    Lumintang, J., 2015. Kontstruksi Budaya Mapalus Dalam Kehidupan Masyarakat Minahasa. Jurnal Administrasi Publik,1(028): 73-80
3.    Rembet,S. 2004. Mapalus Sebagai Kapital Sosial Pembangunan Di Minahasa. Sekolah Pascasarjana IPB.
4.    Siregar, L., 2002. Antropologi dan Konsep Kebudayaan. Jurnal Antropologi
Papua, 1(1), pp.1-12.
5.    Sumual, H.N., 1995. Baku Beking Pande. Bina Insani. Jakarta.
6.    Tandaju, V. 2014. Implementasi Program Mapalus Kamtibmas Di Kecamatan Maesaan Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Eksekutif, 1(3) pp: 1-12.
7.    Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup.




[i] Catatan pengantar diskusi Sekolah Mawale, 16 September 2016
[ii] Ketua Gerakan Minahasa Muda (GMM)

Kamis, 22 Agustus 2013

KPU Tetapkan 312 Caleg DCT DPRD Minahasa

Kamis, 22 Agustus 2013 KPU Minahasa menetapkan 312 calon dalam DCT anggota DPRD Kabupaten
Minahasa untuk Pemilu 2013. Berita selengkapnya klik di KPU Tetapkan 312 Caleg DCT DPRD Minahasa

Minggu, 04 Agustus 2013

SORGA KEHIDUPAN Terkubur di Bawah Lapisan Es

Terkubur 3.700 meter di bawah permukaan es, mungkinkah ada kehidupan ? Yah, Danau Vostok, yang berada ribuan meter di bawah lapisan es, sebelumnya diklaim tak memiliki kehidupan, namun data terbaru seperti diberitakan KOMPAS.com ternyata tak seperti itu. Berikut kutipan berita Sains-Kompas.com.
Danau Vostok (Sains-Kompas.com)

KOMPAS.com — Ada surga kehidupan yang terkubur di bawah lapisan es Antartika. Danau Vostok yang berlokasi di Antartika dan terkubur ribuan meter di bawah lapisan es, berdasarkan riset terbaru, diduga merupakan lingkungan yang kaya dan beragam, bahkan diklaim memiliki ikan.

Beradasarkan analisis bahan genetik, para peneliti menduga adanya lebih dari 3.500 bentuk kehidupan yang berbeda pada danau yang sebelumnya dianggap "tidak ramah" bagi makhluk hidup ini.

Danau Vostok adalah danau sub-glasial terbesar di Bumi yang terkubur di bawah 3.700 meter di bawah lapisan es. Danau ini menempati urutan ketujuh sebagai danau dengan volume terbanyak dan urutan keempat untuk danau terdalam.

Para ilmuwan lama percaya bahwa lingkungan danau yang gelap dengan suhu dingin dan panas (dari ventilasi hidrotermal) serta mendapatkan tekanan dari es glasial yang ada di atasnya tidak memungkinkan adanya bentuk kehidupan.

Namun, analisis potongan es yang diambil dari cekungan utama bagian selatan dan pada ujung barat daya Danau Vostok memberikan bukti baru.

Tim peneliti Bowling Green State University yang dipimpin oleh Yury M Shtarkman dan Zeynep A Kocer berhasil mengumpulkan 3.507 rangkaian RNA dan DNA, fragmen sel dan virus, serta mengidentifikasi jenisnya dari 1.623 rangkaian.

"Kompilasi hasil menunjukkan bahwa organisme hidup dan bereproduksi di Danau Vostok," tulis mereka dalam hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE pada Rabu (3/7/2013).

Dari sejumlah rangkaian yang teridentifikasi, 94 persen di antaranya adalah milik bakteri, sementara sisanya adalah makluk yang memiliki membran inti sel, disebut eukaryota, mencakup jamur, alga, dan lainnya.

Analisis lebih lanjut menunjukkan, rangkaian DNA merupakan milik makhluk hidup dengan habitat beragam, mulai yang hidup di danau, air payau, tanah, dan sedimen laut dalam.

Diuraikan BBC, Senin (8/7/2013), bakteri pemilik rangkaian bahan genetik yang ditemukan bersimbiosis dengan hewan maupun yang merugikan. Bakteri tersebut juga berasosiasi dengan anemon laut, cacing bersegmen, dan lainnya.

Ilmuwan juga menduga adanya bakteri yang hidup di lingkungan panas dekat ventilasi hidrotermal. Ventilasi hidrotermal, bila memang ada, akan menjadi sumber energi bagi makhluk hidup danau lainnya.

Berdasarkan bahan genetik yang ditemukan, Danau Vostok mungkin juga tak cuma memiliki mikroorganisme, tetapi juga organisme kompleks seperti ikan.

"Indikasi tambahan adanya hewan berasal dari adanya beberapa sequence bahan genetik yang merujuk pada bakteri anggota Enterobacteriaceae," jelas para peneliti seperti dikutip CBSNews, Selasa (9/7/2013).

"Ini mencakup sequemce dari spesies E coli, Erwinia, Klebsiella, Salmonella, dan Shigella, yang semuanya ditemukan di sistem pencernaan ikan dan hewan air lainnya," tambah peneliti.

Bila dikonfirmasi kebenarannya dengan penemuan makhluk hidup secara langsung, temuan ini akan memberikan harapan pada adanya makhluk hidup di luar Bumi.

Kondisi seperti Danau Vostok juga terdapat di tempat lain, seperti bulan Jupiter, Europa. Ada lautan di bawah permukaan yang mungkin juga menyimpan kehidupan.

Meski demikian, hasil penelitian ini juga perlu dikritik. Material genetik yang ditemukan bisa jadi merupakan kontaminasi dari masa lalu. (Dyah Arum Narwastu)

Sabtu, 15 Juni 2013

Penggunaan Kantong Plastik capai 500 milyar

http://intisari-online.com/read/bumi-terusik-kantong-plastik-
Bumi Terusik Kantong Plastik Sat, 15 Jun 2013 10:00:00

Intisari-Online.com - Dalam debat “kertas atau plastik?”, plastik menang. Produksinya lebih murah -dan, beberapa pihak bilang, lebih bersih. Tapi merusak lingkungan. Lihat saja sebuah pohon dalam hari yang berangin, kantong plastik melambai-lambai di cabang-cabangnya. Kemudian, kantong plastik berbasis minyak mendegradasi tanah, hampir selamanya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk, Irlandia telah jauh-jauh hari mengambil langkah progresif. Tahun 2002, pemerintah Irlandia mulai memberlakukan pajak kantong yang mampu mengikis jumlah sampah.

Tahun 2007, San Franncisco mencekal kantong plastik di supermarket dan jaringan toko obat. Kemudian IKEA, jaringan ritel raksasa asal Swedia, melakukannya di AS dan Inggris, tempat mereka menyebar 70 juta kantong plastik per tahun. IKEA memberi tarif 59 persen untuk sebuah kantong yang kuat dan tahan lama.

Inilah beberapa fakta penting tentang penggunaan kantong plastik sebagaimana dicatat National Geographic.

Jumlah perkiraan penggunaan kantong plastik di seluruh dunia: lebih dari 500 miliar. Jumlah kantong plastik yang digunakan di Amerika Serikat tiap tahun: 100 miliar. Persentase kantong plastik yang didaur ulang hanya 1 (satu) persen saja. Lama kantong plastik terurai di dalam tanah mencapai ratusan tahun. Semua kantong yang bisa dipakai ulang merupakan jenis kantong yang paling sedikit mengonsumsi sumber daya setiap kali digunakan.

Minggu, 17 Februari 2013

Banjir-Longsor dan Hujan Berkat

Sebuah Refleksi Ekoteologis....
 
Hujan mengguyur bumi Nyiur melambai sejak Sabtu (16/2) tiada henti, meski malam telah menyelimuti dusun-dusun kecil. Seperti biasa, orang Manado masih bisa bertutur penuh iman, " ini hujan berkat kwa...". Sebuah ungkapan yang spontan meluncur jika orang Manado yang mayoritas Kristen itu merespon jatuhnya  rintik-rintik air hujan di buminya.

Namun, pagi hari ketika selimut malam terlepas, dan para penganut agama Kristen bersiap-siap ke Gereja, kabar bencana banjir dan longsor mulai tersiar dari BBM ke BBM, dari SMS ke SMS... Hampir di setiap sudut Kota Manado tergenang banjir. Jalur jalan Tomohon-Manado putus karena longsor. Di Kota Tondano, rumah-rumah penduduk di outlet Danau Tondano berikut persawahannya terendam air. Lebih dari itu harta dan nyawa pun melayang akibat banjir dan longsor. Walhasil, ungkapan "hujan berkat" tak lagi meluncur. Walaupun sebenarnya hujan itu tetaplah berkat bagi manusia. Lho???

Yah, hujan adalah peristiwa alami dari siklus air (siklus hidrologi) yang terjadi di alam raya ini. Bayangkan jika bumi tak terbasahi oleh air hujan. Dimana padi di sawah berharap "minum"nya. Bayangkan jika tiada hujan pasti kita berhadapan dengan kekeringan. Jadi, hujan tidak bisa menjadi alamat tuduhan malapetaka ini.

Lalu, jika hujan tak bisa kita "kambing hitamkan"... kepada siapa lagi gugatan ini akan dialamatkan ?

Hujan dan panas adalah dua peristiwa yang silih berganti. Adalah juga dua peristiwa yang proses saling bergantinya kita kehendaki. disuatu saat kita butuh hujan, di saat yang lain kita butuh panas. Ritme alam yang pergantiannya sangat teratur di masa lalu. Namun di zaman ini, ritme dan frekuensi serta volumenya tidak menentu.

Jika diantara keduanya datang berlebih, maka kita kan menikmati masalah. Tapi, bukan hujan atau panas (yang berlebih), yang harus disalahkan. Jikapun datangnya berlebih, itu karena ulah manusia !

Hujan, secara alami ketika jatuh, sejatinya, ditampung oleh daerah-daerah resapan air yang biasanya diperankan oleh hutan-hutan. Kehadiran hutan pun menghambat pengikisan tanah (erosi) dan mencegah berubahnya struktur ikatan tanah yang dapat berakibat longsor.

Jadi, sadarlah kita betapa besar fungsi hutan bagi keseimbangan hidup ekosistem atau sistem alamiah. Hutan sebagaimana juga hujan adalah BERKAT. Namun, hutan kita kini semakin lenyap. Deforestasi terjadi dimana-mana. Hutan alam kini berubah menjadi lahan pertanian, atau ditransfer menjadi hutan beton alias perumahan. Jadinya, daerah tangkapan air (catchman area) menjadi berkurang dan tak mampu lagi menampung air hujan, apalagi dalam jumlah yang besar. Maka terjadilah banjir dan tanah longsor dimana-mana.

Kalau demikian maka,  "hutan berkat" yang harusnya mengatur "hujan berkat" akan menjadi masalah bagi kita, ketika kita tak mampu menjaganya.... dibutuhkan kearifan ekologis.

Lalu, jika sudah begini, apa yang bisa dilakukan ?

Butuh bertahun-tahun untuk melakukan restorasi ekosistem hutan namun itu tetap menjadi pilihan jangka panjang, paling tidak untuk anak cucu kita. Meskipun sebagian dari mereka telah menjadi korban kekinian. Yang paling dekat adalah melakukan tindakan-tindakan antisipatif, jangan-jangan bencana itu datang lagi. Paling tidak meminimalisir segala potensi masalah. Daerah rawan longsor ataupun rawan banjir seperti di daerah pinggiran sungai, yang tidak layak huni dan beresiko harus dideteksi secara utuh. Tentu saja dengan persiapan relokasi pemukiman yang lebih aman. Meskipun sulit dan mahal namun ini adalah salah satu alternatif.

Hari ini kita berduka dan turut merasakan apa yang dialami oleh saudara - saudara kita. Namun kita tentu saja tak ingin ada korban lagi di hari mendatang. Hari ini kita pasti berdoa untuk pemulihan alam, kita pun pasti akan berdiakonia untuk para korban. Tapi kita pun harus melakukan sesuatu agar kita tidak mejadi kambing hitam di waktu yang akan datang.....Karena kita tak bisa "mengkambinghitamkan" hujan yang tetap adalah berkat, apalahi hutan yang juga adalah berkat. Kekuasaan kitalah terhadap alam yang layak dikambinghitamkan, yah dosa kita terhadap lingkungan.... dosa kita yang tak mampu menjaga keseimbangan berkat Tuhan.

Pray for Sulut, Do Something for Sulut.... (Tondano, 17 Februari 2013)

Kamis, 14 Februari 2013

Peran Pemkab dan DPRD dalam Pelestarian Danau Tondano



Oleh : Yanny Y.A.G. Marentek, S.Th.
(Angg FPG DPRD Kab Minahasa; Ketua Badan Legislasi DPRD Kab Minahasa)

§  Introduksi
Danau Tondano disadari merupakan bagian vital kehidupan dan penghidupan masyarakat, bukan saja di Kabupaten Minahasa tetapi di Sulawesi Utara pada umumnya. Hal ini disebabkan oleh mulitifungsi Danau Tondano yang memegang peran vital dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut meliputi: sebagai sumber mata pencaharian masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, pengairan bagi pertanian, objek wisata, tempat cuci-mandi, tempat berolahraga, sumber gizi masyarakat, sumber energi listrik melalui PLTA juga sebagai sumber air minum bagi sebagian masyarakat di Kota Manado melalui pengolah PDAM / PT Air Manado. Bagi kalangan ilmuwan, Danau Tondano merupakan objek penelitian.
Dengan fungsi-fungsi yang vital tersebut, maka adalah wajar jika banyak pihak memberikan reaksi ketika menyaksikan Danau Tondano mengalami berbagai masalah lingkungan. Dimaklumi bahwa sebagai warga masyarakat, pasti tidak menghendaki Danau Sumber kehidupan dan berkat akan kehilangan fungsinya.
Masalah – masalah yang dihadapi Danau Tondano, sebenarnya membutuhkan perhatian dari banyak pihak yang memangku kepentingan, namun pada kesempatan ini akan coba dibahas sejauh mana peran pemerintah selaku pihak eksekutif dan DPRD Kabupaten Minahasa selaku pihak legislatif. 

PEMUDA GEREJA DAN LINGKUNGAN HIDUP



(materi PKPG Pemuda GMIM , Tondano 2012)
Oleh:
Meidy Y. Tinangon, M.Si.
========================
  Introduksi: “menggeser paradigma, merajut aksi”
A
da sebuah kisah tentang Kapal Titanic. Kapal yang besar dan megah di masanya. Kapal yang dianggap paling besar, paling kuat, paling megah, paling hebat ! Tak seorangpun meragukan kemampuan dari kapal tersebut. Tak ada yang berpikiran bahwa kapal yang hebat tersebut suatu saat akan tenggelam. Tak ada yang memusingkan diri dengan hal tersebut.   Dalam perjalanan tersebut, orang – orang sibuk dengan kesenangan bahkan pesta. Namun apa yang terjadi ? Suatu saat kapal mengalami masalah akibat bongkahan es di laut, kapal sudah mulai tenggelam perlahan namun orang masih sibuk dengan urusan kesenangan masing-masing. Hingga akhirnya kapal pun tenggelam dengan korban jiwa yang besar.
Dalam hubungan dengan topik bahasan kita, pandangan orang-orang terhadap kapal Titanic ini sama dengan cara pandang kita terhadap bumi atau lingkungan hidup kita.
Manusia telah sekian lama menganggap bumi ini sedemikian tangguh dengan segala proses alamnya. Kita merasa bumi ini demikian besar dan begitu jauh dari kesan kerapuhan. Kita merasa bumi sangat mampu menampung sejumlah besar manusia dan kita menganggap bumi kita demikian hebatnya, dan karenanya tak akan mungkin “tenggelam” seperti keyakinan para petinggi dan orang-orang pintar dalam kisah kapal Titanic di atas.
Padahal paradigma tersebut merupakan paradigma yang kurang tepat. Bumi kita memang besar dan luas, namun dia punya keterbatasan. Bumi kita punya “limit” yang mampu didukungnya. Limit tersebut kemudian dikenal sebagai batas toleransi dan kemampuan lingkungan mendukung segala perubahan dalam lingkungannya dikenal dengan daya dukung lingkungan (carrying capacity). Melampaui limit tersebut, bumi (lingkungan hidup) kita akan terganggu keseimbangannya (homeostatis).
Karenanya, bumi kita membutuhkan sebuah tindakan pemilharaan.  Namun sebuah tindakan itu membutuhkan perubahan paradigma. Sikap dan tindakan kita terhadap lingkungan hidup akan sangat tergantung pada paradigma yang terbangun dalam pikiran kita. Semoga perubahan paradigma itu akan terwujud atau makin mewujud disini untuk sebuah rajutan aksi penyelamatan bumi... Sebuah peran pelayanan bagi keutuhan ciptaan (integrity of creation).