Media Informasi, kajian, Bio-Ekologi dan Interaksi LH & Pembangunan

Jumat, 01 Februari 2013

Mencari Solusi Problema Lingkungan DANAU TONDANO



Oleh:
Meidy Y. Tinangon

Orang Minahasa dimanapun berada, yang sempat melihat langsung Danau Tondano, pasti  prihatin dengan kondisi danau kebanggaannya tersebut.  Secara kasat mata, danau yang menjadi salah satu ”primadona pariwisata kawanua” saat ini dipenuhi oleh salah satu spesies tumbuhan air yang dikenal sangat cepat pertumbuhannya yaitu Eceng Gondok yang dalam bahasa ilmiah (scientific name) dikenal dengan Eichornia crassipes.

Dalam laporan Tamanampo dkk peneliti dari Fakultas Perikanan Manado, Tahun 1995 Tumbuhan air yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Water hyantich  ini belum ditemui. Komunitas tumbuhan akuatik di Danau Tondano kala itu masih didominasi oleh tumbuhan jenis arakan (Hydrilla verticilata) dan tanaman terbenam-berakar di dasar danau lainnya.
Namun survey penulis tahun 1999 (selang waktu 4 tahun) Eceng Gondok telah eksis dan menjadi spesies dominan dalam struktur komunitas tumbuhan air di Danau Tondano. Semenjak itu, perhatian pemerintah maupun masyarakat kawanua mulai diarahkan ke ekosistem kebanggaan Tou Minahasa tersebut. Berbagai wacana maupun aksi nyata telah dilakukan semua komponen terkait dengan target : selamatkan Danau Tondano, berantas Eceng Gondok !. Tetapi hingga saat   ini, torang masih berkutat dalam wacana dan aksi yang masih cenderung asal tembak, tidak sistematis dan tanpa sinergi. Hasilnya ?  Sampai saat ini Eceng Gondok masih menguasai Danau Tondano dan berarti menguasai Tou Minahasa.
Foto Udara Outlet Danau Tondano
Kalau dengan Eceng Gondok saja kita kalah bersaing, apalagi dengan kompetisi global yang semakin menggila sekarang ini ? Mungkinkah tak ada alternatif solusi untuk menanggulangi Eceng Gondok ?? Ataukah solusi ada namun hanya sampai pada konsep tanpa ada good will  untuk action ?? Mungkinkah benar stigma ”untung bibir” ternyata telah terinternalisasi dalam jiwa kita, kawanua ??

Akar Masalah
Jika kita hendak mencari solusi terhadap suatu persoalan, carilah dahulu substansi atau akar dari persoalan tersebut. Kita banyak ribut dan ”kebakaran jenggot” dengan Eceng Gondok, padahal Eceng Gondok hanyalah fenomena yang muncul oleh serangkaian persoalan yang ternyata disebabkan oleh tindakan kurang bijaksana dari Tou Minahasa sendiri. Namun karena Eceng Gondok juga menyebabkan masalah baru yang lebih kentara, maka wajar jika tumbuhan berbunga ungu ini menjadi ”sasaran tembak”. Tetapi, sekali lagi, masih ada lapis masalah yang lebih mendasar yang salah satu gejalanya adalah booming vegetasi termasuk booming Eceng Gondok.
Karena ledakan (booming) populasi Eceng Gondok hanyalah gejala dari sebuah akar masalah, maka yang harus ditelusuri adalah  kondisi apa yang menyebabkan gulma air tersebut membludak. Mengangkatnya dari danau memang merupakan salah satu cara yang dapat menanggulangi kepadatan populasi Eceng Gondok sekaligus dampak ikutannya seperti gangguan transportasi dan percepatan pendangkalan, namun hal tersebut hanyalah akan berlaku dalam jangka pendek. Selama faktor penyebab booming Eceng Gondok tak bisa ditangani, maka  pertumbuhan Eceng Gondok tetap akan kita saksikan.
Lalu, apa penyebab ledakan populasi tersebut ?
Penyebabnya adalah manusia.



Jangan kaget, jangan ”merah kuping”. Torang (kita) memang tanpa sadar menjadi trouble maker dalam problem ini. Ledakan populasi tumbuhan air merupakan tanda bahwa telah terjadi pencemaran nutrien (makanan) tumbuhan. Dalam kosakata lingkungan proses pengkayaan nutrien dikenal dengan istilah eutrofikasi. Danau yang sebelumnya miskin akan zat hara / nutrien lama kelamaan akan menjadi lebih kaya kandungan nutriennya. Proses ini sebenarnya merupakan proses alamiah yang wajar, namun menjadi tidak wajar ketika campur tangan manusia lewat berbagai aktifitasnya semakin mempercepat penambahan bahan nutrien kedalam danau. Akibatnya adalah kandungan nutrien berlebih merangsang pertumbuhan berbagai jenis alga dan tumbuhan air termasuk Eceng Gondok.
Apa yang dilakukan oleh manusia sehingga menjadi penyebab dari keterpurukan Danau Tondano ?
Tindakan manusia Minahasa yang menyebabkan semakin cepatnya proses eutrofikasi dimulai dengan penggundulan hutan di sekitar DAS Tondano. Gundulnya hutan atau terkonversinya hutan menjadi daerah pertanian dan pemukiman, menyebabkan peningkatan erosi yang membawa sedimen-sedimen mengandung nutrien tanaman (nitrogen dan fosfat) masuk ke dalam danau melalui aliran-aliran sungai.
Aktifitas pertanian yang menggunakan pupuk juga memberikan kontribusi bagi pengkayaan nutrien di Danau Tondano, karena sisa-sisa pupuk (nutrien) juga dialirkan ke danau, terutama di lahan kebun atau sawah di sekitar danau.
Penggunaan detergen dan pembuangan sampah organik ke danau juga menyebabkan peningkatan kandungan nutrien danau ditambah lagi dengan sisa-sisa pembusukan tanaman air yang mati (apalagi disaat jumlah Eceng Gondok semakin banyak).
 Aktivitas masyarakat lainnya adalah peternakan di sekitar danau dan budidaya ikan mujair dan ikan mas dalam jaring tancap yang memberikan kontribusi nutrien melalui kotoran hewan dan sisa limbah pakan ikan.
Jadi, jelas bagi kita bahwa semua ini adalah karena kita gagal melakukan langkah-langkah ”pencegahan” dan akhirnya kita harus ”mengobati”. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati ?

Alternatif Solusi  

            Karena masalah yang dihadapi Danau Tondano tergolong masalah kompleks dan komplikatif, maka pengobatannya pun perlu menggunakan ramuan khusus. Kita ditantang untuk mengendalikan populasi Eceng Gondok dalam jangka pendek sebelum dia semakin ganas dan menggila.  tetapi juga untuk jangka panjang kita ditantang untuk mengurangi penambahan unsur hara ke danau supaya tidak terjadi pencemaran nutrien  di danau.
            Tindakan (bukan bicara) yang dibutuhkan saat ini perlu dilakukan sistematis dan simultan meliputi:
-          Pengangkatan Eceng Gondok secara besar-besaran dengan memanfaatkannya (Daun untuk pakan ternak, batang untuk kerajinan, akar dan sisa tanaman yang membusuk untuk kompos dan biogas).
-          Hijaukan kembali daerah tangkapan air (catchman area) DAS Tondano
-          Pengolahan air limbah pertanian sebelum masuk ke danau (dapat menggunakan eceng gondok).
-          Pembatasan budidaya ikan dalam jaring tancap.
-          Stop membuang sampah ke danau
-          Kurangi penggunaan detergen

Secara operasional, semua ini membutuhkan dana sehingga ditunggu komitmen Pemerintah Kabupaten Minahasa dan pemerintah provinsi Sulut. Namun demikian dibutuhkan juga peran setiap stakeholder termasuk masyarakat. jadi menjadi tanggung jawab kita juga untuk memberi kontribusi dalam “mengobati” Danau Tondano (MYT, 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar